Search in:

MSG, Aman atau Tidak, Ya?

Kita sering mendengar tentang MSG, pemanis, pengawet, dan sebagainya. Bahan-bahan tersebut masuk ke dalam bahan tambahan pangan (BTP). Pengertian bahan tambahan pangan secara umum, bahan tambahan pangan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai manakan dan biasanya bukan merupakan komponen khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan. Salah satu bahan tambahan pangan yang sering dijumpai dan dipergunakan di dapur rumah tangga adalah MSG atau yang lebih dikenal dengan micin.

MSG termasuk dalam bahan penyedap rasa yang berfungsi untuk memperbaiki rasa. MSG merupakan garam dari asam glutamat, yang memberikan rasa umami, sebuah sensasi rasa yang baru ditemukan di Jepang. Meskipun telah dipercaya dapat memberikan rasa enak, namun belakangan ini banyak yang mulai menghindarinya. Hingga saat ini masih ada perdebatan mengenai boleh tidaknya penggunaan MSG di dalam makanan. Ada yang secara absolute mengatakan penggunaannya tidak diizinkan, namun ada pula yang memperbolehkan dalam jumlah yang sangat sedikit.

Pemakaian MSG yang berlebihan dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan, misalnya Chinese Restaurant Syndrome (CSR). Penyakit ini pertama kali diungkapkan oleh Dr. Ho Man Kwok pada tahun 1969. Gejala yang ditimbulkan adalah kesemutan pada punggung, leher, rahang bawah, dan leher bagia bawah kermudian berasa panas, wajah berkeringat, sesak di dada bagian bawah dan kepala pusing. Gejala ini timbul setelah 20-30 meni mengkonsumsi makanan yang dihidangkan di restoran Cina.

Hasil penelitian pada saat itu mengungkapkan bahwa penyebab gejala tersebut adalah tingginya kadar MSG dalam sup. Kadar MSG dalam sup memang biasanya relative sangat tinggi dan dihidangkan pertama kali, dikonsumsi saat perut masih kosong. Sehingga MSG cepat terserap dalam tubuh dan menyebabkan timbulnya gejala CSR.

MSG juga dilaporkan dapat mengakibatkan kerusakan sel saraf pada anak tikus bila diberikan dalam dosis tinggi (0,5 g/kg berat badan/hari). Gejala kerusakan sel saraf otak mengakibatkan anak tikus menjadi pendek-pendek dan gemuk-gemuk serta mengalami kerusakan retina mata. Walaupun demikian, peneliti belum menemukan efek yang pasti pada manusia. Sehingga yang bisa dilakukan adalah menghindari pemakaian MSG secara berlebihan.

Lalu kalau menghindari MSG, bagaimana menyedapkan makanan?

Mudah saja, perbanyak bumbu dalam makanan. Bumbu-bumbu dapur yang selama ini kita kenal merupakan penyedap alami sekaligus pengawet makanan. Cengkeh, merica, daun salam, sereh, bawang, merupakan bumbu-bumbu yang sering dipakai di Indonesia yang dapat dipergunakan untuk menyedapkan makanan. Sehingga kita bisa mengalihkan pemakaian MSG pada bumbu yang lebih sehat. (Fitri)

*Sumber: Analisis Kesehatan Bahan Tambahan Pangan (Wisnu Cahyadi, 2008)

3 thoughts on “MSG, Aman atau Tidak, Ya?

vurtilopmer

You actually make it seem so easy together with your presentation but I in finding this matter to be really something which I feel I would never understand. It kind of feels too complex and extremely broad for me. I am looking forward to your next post, I’ll try to get the hang of it!

Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *