Search in:

Faktor yang Mempengaruhi Kandungan Escherichia coli (E. coli) pada Makanan Jajanan SD

Makanan jajanan yang ada di Sekolah Dasar (SD) merupakan suatu kebutuhan yang harus tersedia sehingga dapat dikatakan bahwa makanan jajanan merupakan bagian yang penting dari sarana yang ada di lingkungan sekolah dasar. Makanan jajanan diharapkan dapat mendukung upaya perbaikan gizi anak SD, mengingat variasi makanan jajanan yang sangat beragam dan harganya murah. Lebih dari 90% anak usia SD kecuali Taman Kanak-Kanak (TK) tidak membawa bekal makanan dari rumah, sebagai gantinga mereka dibekali uang untuk membeli makanan jajanan di sekolah dasar.

Pola makanan jajanan anak di masa yang akan datang mungkin merupakan tumpuan yang diharapkan orangtua murid, karena ibu dengan kesibukannya tidak sempat menyediakan makanan anak di rumahnya. Anak usdia SD (6-12 tahun) memiliki kebiasaan ajan dan sudah dapat memilih serta menentukan  makanan  apa yang disukai dan tidak. Untuk hal tersebut makanan jajanan di SD selain faktor gizi, perlu juga diperhatikan faktor sanitasi dan higienisnya.

Banyak kita temukan murid SD dengan lahap menyantap berbagai jenis makanan yang tersaji di deretan roda penjual makanan di depan SD mereka. Warna-warni makanan yang cerah dan menggoda membuat lidah mereka tertarik untuk mengecap rasanya. Namun mereka tidak sadar bahwa bahaya sedang mengintai akibat makanan yang dikonsumsi mereka. Zat pewarnya yang digunakan termasuk bahan tambahan pangan yang dilarang dan apabila dikonsumsi berdampak pada kesehatan, terutama mengganggu sistem pencernaan.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan menyatakan bahwa 45% produk pangan olahan di lingkungan SD tercemar bahan berbahaya mulai dari fisik, kimiawi, maupun mikrobiologi. Karena itu, wajar jika SD dan kampus merupakan  tempat yang paling sering menyebabkan kasus keracunan makanan setelah di rumah tangga. Jenis makanan yang banyak dijual di SD yang mudah terkontaminasi bakteri yaitu cakue, cireng, cilok, sosis goreng, dan  mie goreng.

Faktor yang diperkirakan memenuhi kandungan E. coli makanan jajanan yaitu :

  1. Kebersihan orang pengolah makanan,
  2. Peralatan. Peralatan yaitu semua perlengkapan yang diperlukan dalam proses pengolahan makanan seperti pisau, sendok, kuali, dan wajan.
  3. Bahan makanan,
  4. Penyajian makanan,
  5. Sarana Penjualan, maksud dalam saranan penjualanan makanan yaitu semua perlengkapan yang digunakan untuk menjual makanan seperti rombong, meja, dan tempat penyimpanan makanan jadi.

Cara Menjaga Agar Terhindar dari Bakteri E.Coli :

Menjaga agar tehindar dari bakteri E.Coli dengan cara sanitasi makanan jajanan ditetapkan oleh dinas kesehatan :

  • kebersihan pengolah makanan harus berbadan sehat, menutup luka, menjaga kebersihan tangan, kuku, rambut, dan  pakaian, memakai celemek, mencuci tangan setiap kali akan memegang makanan.
  • Peralatan makanan harus dicuci dengan air bersih, dikeringkan dengan lap bersih, dan disimpan di tempat yang bersih.
  • Bahan makanan harus segar, bahan makanan dalam kemasan harus terdaftar di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Makanan disajikan menggunakan tempat yang bersih, tertutup, dan hangat.
  • Sarana penjualanan harus mudah dibersihkan, tersedia tempat penyimpanan makanan, dan kondisi sarana baik.

Pada salah satu hasil penelitian di lingkungan SD daerah Cimahi, Jawa Barat memperlihatkan hubungan bermakna antara kebersihan orang pengolah makanan dan kandungan E. coli makanan jajanan SD (p=0,0001). Kebersihan pengolah makanan jajanan yang tidak memenuhi syarat mempunyai resiko 14 kali makanan yang dijual mengandung E. coli dibandingkan dengan kebersihan pengolah makanan yang memnuhi syarat, setelah dikontrol variable peralatan makanan, bahan makanan, dan saranan penjualanan makanan.

Pada hasil penelitian diatas terdapat hubungan bermakna antara peralatan dan E. coli makanan jajanan SD (p=0,002). Peralatan makanan pedagang yang tidak memenuhi risiko 4,5 kali makanan jajanan yang dijual mengandung E. coli dibandingkan dengan peralatan makanan pedagang yang memenuhi syarat. Setelah dikontrol variable kebersihan orang pengolah makanan, bahan makanan, dan sarana penjualanan makanan.

Masih banyak pedagang makanan jajanan yang menggunakan air untuk mencuci peralatan yang tidak mengalir yaitu hanya menggunakan ember dan airnya jarang diganti, alat pengeringan peralatan berupa lap digunakan berulang-ulang. Selain itu tidak terdapat tempat penyimpanan khusus untuk peralatan yang bersih dan alat disimpan di tempat terbuka. Seharusnya peralatan dicuci dengan air yang mengalir dan menggunakan detergen atau bila menggunakan ember harus sering diganti airnya. Peralatan yang sudah bersih disimpan di tempat yang tertutup dan tidak memungkinkan terjadinya pencemaran, demikian pula lap yang digunakan harus sering diganti agar tidak terjadi pencemaran ulang lap yang kotor pada peralatan yang sudah bersih.

Seharusnya makanan jajanan disajikan dalam keadaan terbungkus dan tertutup untuk mencegah kontaminasi makanan serta mencegah serangga dan binatang lain mencemari makanan. Jika menyiapkan makanan dilakukan jauh sebelum disajikan (>6 jam), harus dipanaskan kembali dengan benar. Suhu yang baik untuk pertumbuhan bakteri 10-60°C (danger zone). Untuk mencegah bakteri tidak dapat tumbuh yaitu dibawah 10°C dan diatas 60°C. berdasarkan hasil penelitian Djarismawati dkk dinyatakan bahwa kontaminasi makanan di Instansi Gizi Rumah Sakit Jakarta terjadi pada makanan tanpa pemanasan sebesar 78,9%

Simpulan, factor dominan yang mempengaruhi kandungan E. coli pada makanan jajanan SD yaitu kebersihan penjual, peralatan dan bahan serta sarana pejualan makanan jajanan. Factor yang paling dominan yaitu saranan penjualan makanan jajanan. (Dayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *