Search in:

Fenomena Adulterasi Makanan dan Deteksinya

Pernahkah anda mendengar kasus bakso oplosan daging sapi-babi? Bakso yang diberi boraks? Susu yang dicampuri air, deterjen, bahkan urea? Biji lada hitam yang dicampur biji pepaya kering? Permasalahan tersebut menjadi ramai di berbagai tempat dan merupakan salah satu contoh fenomena food adulteration.

Sumber : www.portal-islam.id/

Apa sih adulterasi makanan itu?

Adulterasi makanan telah dianggap sebagai problem serius yang tidak hanya menurunkan kualitas produk pangan, namun juga menghasilkan resiko penyakit. Food adulteration diartikan sebagai pemasukan bahan-bahan yang tidak bermanfaat bagi kesehatan; merugikan; atau yang tidak dibutuhkan oleh tubuh sehingga pada akhirnya bahan-bahan tersebut hanya akan merusak dan menurunkan mutu produk pangan. Persoalan adulterasi pangan menyebabkan status pangan menjadi tidak aman dan tidak hygiene, yang kemudian memicu efek signifikan terhadap kesehatan tanpa disadari.

Alasan utama yang mendorong praktek adukterasi yakni demi menaikkan pemasukan dengan cara menambah volume produk. Survey ilmiah pada tahun 2011 menunjukkan pengungkapan kasus susu yang dioplos dengan air di India. Pengoplosan tersebut menggunakan air sebanyak 70% kasus, bubuk kunyit dan bubuk kapur 43%, bubuk cabai merah plus pewarna buatan sebanyak 100% kasus, dan penambahan gula dengan bubuk kapur sebanyak 37%. Seiring pertumbuhan populasi penduduk, adulterasi menjadi langkah yang ditempuh sebagian oknum untuk memenuhi target produksi pangan.

Lalu, bagaimana cara mendeteksi produk adulterasi pangan?

Beberapa upaya dapat dilakukan untuk membedakan produk asli dengan adulterasi. Sebagai contoh, lada hitam dapat dipisahkan dari bahan pencampur dengan cara memilah biji yang keriput, lebih oval, sekaligus berwarna coklat kehitaman. Biji-biji tersebut merupakan biji pepaya yang diikutkan untuk meningkatkan berat maupun volume lada. Selanjutnya, untuk susu yang dicampuri air, maupun urea dapat diketahui dengan alat strip urease. Bila hasilnya positif, maka susu tersebut telah tercemar dengan bahan pencampur. Lantas, bisakah kita membedakan daging oplosan pada bakso?

Khusus untuk produk turunan daging, dapat dianalisis dengan alat kromatografi dan Fourier Transform Infra Red (FTIR). Alat kromatografi canggih (High Perform Liquid Chromatography) maupun FTIR memiliki prinsip deteksi unsur babi bahkan dalam konsentrasi kecil. Bila terdapat unsur identik babi dalam produk, maka hasil analisis akan menunjukkan bagian yang spesifik yang mengindikasikan adanya cemaran kehalalan.

Referensi:

Choudary, A., Gupta, n., Hameed, F., and Choton, S. 2020. An overview of food adulteration: Concept, sources, impact, challenges, and detection. International Journal of Chemical Studies 8 (1): 2564-2573.

Artikel Terkait :

Halal Pork – Burger Dengan Daging Babi Tiruan, Halalkah?

Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) SEBAGAI ALAT DETEKSI DNA BABI DALAM PRODUK FARMASI

Nur Aini ed NH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *