Search in:

Diabetes dengan Ibadah Puasa

Bagi penderita DM, kegiatan berpuasa (dalam hal ini puasa Ramadhan) akan mempengaruhi kendali glukosa darah akibat perubahan pola dan jadual makan serta aktifitas fisik. Berpuasa dalam jangka waktu yang lama akan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi akut seperti hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetikum, dan dehidrasi atau thrombosis. Risiko tersebut terbagi menjadi risiko sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah. Risiko komplikasi tersebut terutama muncul pada pasien DM dengan resiko sedang sampai sangat tinggi (lihat tabel 9).

Pengaturan pola makan pada penderita DM pada hari-hari biasa:

  • Makan pagi : 20% total kalori
  • Makan siang dan malam @ 25% total kalori
  • Makanan selingan @ 10% total kalori

Khusus untuk bulan puasa :

  • Porsi makan pagi dan selingan pagi disetarakan dengan makan pada saat buka puasa
  • Porsi makan siang disetarakan dengan makan malam sesudah tarawih
  • Porsi selingan sore disetarakan dengan selingan makan saat akan tidur malam

Makan malam dan selingan malam disetarakan dengan makan sahur

Tabel 9. Kategori  Risiko Terkait Puasa Ramadan pada Pasien DM Tipe 2

Risiko sangat tinggi pada pasien dengan:

§  Hipoglikemi berat dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadan.

§  Riwayat hipoglikemi yang berulang.

§  Hipoglikemi yang tidak disadari (unawareness hypoglycemia).

§  Kendali glikemi buruk yang berlanjut.

§  DM tipe 1.

§  Kondisi sakit akut.

§  Koma hiperglikemi hiperosmoler dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadan.

§  Menjalankan pekerjaan fisik yang berat.

§  Hamil.

§  Dialisis kronik.

Risiko tinggi pada pasien dengan:

§  Hiperglikemi sedang (rerata glukosa darah 150–300 mg/dL atau HbA1c 7,5–9%).

§  Insufisiensi ginjal.

§  Komplikasi makrovaskuler yang lanjut.

§  Hidup “sendiri” dan mendapat terapi insulin atau sulfonilurea.

§  Adanya penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko.

§  Usia lanjut dengan penyakit tertentu.

§  Pengobatan yang dapat mengganggu proses berpikir

Risiko sedang pada pasien dengan:

§  Diabetes terkendali dengan glinid (short-acting insulin secretagogue).

Risiko rendah pada pasien dengan:

§  Diabetes “sehat” dengan glikemi yang terkendali melalui;

o   terapi gaya hidup,

o   metformin,

o   acarbose,

o   thiazolidinedione,

o   penghambat ensim DPP-4.

Sumber : Al-Arouj M, et al. Diabetes Care. 2010. 33: 1895–1902.

(Amilia Yuni)

One thought on “Diabetes dengan Ibadah Puasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *