Search in:

Puasa & Pengamatan Medis Kesehatan Tubuh

Bulan Puasa sebentar lagi tiba. Tahukah anda bahwa secara medis, ternyata terdapat hubungan antara puasa dan hipertensi, perbaikan sel-sel, serta kolesterol? Seperti apa hubungannya? Berikut penjelasannya.

Puasa sepanjang malam dengan rentang waktu 8-10 jam merupakan hal yang normal dilakukan karena waktu tersebut bertepatan dengan waktu istirahat dari berbagai macam aktivitas bagi sebagian besar orang. Terminologi puasa dalam bidang kesehatan sudah biasa digunakan.

Kegiatan puasa salah satunya dilakukan dalam rangka melakukan penilaian biokimia atau tindakan bedah. Puasa sudah diterapkan oleh umat Islam dari abad ke 7 sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Bagi umat Islam puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang tata cara dan waktunya telah diatur. Bagi umat muslim di Indonesia puasa setidaknya dilakukan selama lebih dari 12 jam.

Hubungan Puasa dan Metabolisme Tubuh

Puasa secara umum yang diartikan dengan kondisi ketiadaan bahan makanan yang masuk dalam tubuh manusia memungkinkan terjadinya beberapa perubahan dalam metabolisme tubuh. Makanan, terutama sumber kalori seperti karbohidrat, di dalam tubuh akan dikatabolisme atau dipecah dalam bentuk molekul yang lebih sederhana seperti glukosa.

Glukosa inilah yang akan dimanfaatkan oleh sel dalam rangka menghasilkan energy untuk beraktivitas. Dengan tidak adanya asupan maka tubuh kekurangan energi sehingga tubuh akan memproduksi sendiri energi tersebut dari jalur lain salah satunya berasal dari jaringan adiposa (deposit lemak) maupun jaringan otot.

Jaringan adipose dalam tubuh merupakan cadangan energi selain glukosa yang berbentuk lemak dan dapat dikonversi menjadi energi1. Oleh karena itu puasa bermanfaat dalam mengontrol berat badan agar mencapai ideal karena dapat mengurangi cadangan lemak dalam tubuh.

Puasa dan perbaikan sel tubuh

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, telah banyak riset yang dilakukan untuk meneliti dan menkonfirmasi manfaat puasa bagi kesehatan.  Dalam beberapa riset terhadap hewan coba maupun manusia menunjukkan bahwa puasa dapat memperbaiki kesehatan reproduksi dan mental.

Puasa juga dapat membantu mencegah bahkan membantu penyembuhan kanker dan penyakit musculoskeletal yang biasa terjadi pada wanita usia dewasa akhir dan lansia2. Pasien yang menjalankan kemoterapi akan mendapatkan efek samping berupa rusaknya beberapa sel sehat di sekitar sel kanker. Manfaat puasa dalam proses ini adalah meningkatkan kemampuan sel sehat tersebut dengan melakukan autofagi dalam rangka regenerasi sel3.

Autofagi ini adalah proses perbaikan sel-sel yang ada di sekitar sel kanker ketika proses kemoterapi dijalankan. Beberapa bukti melalui pengamatan secara medis menyebutkan bahwa puasa selama 7-21 hari manjur untuk pengobatan penyakit rematik, gejala nyeri kronis, hipertensi, dan sindrom metabolik4.

Dalam pengobatan kuno masyarakat India (Ayurveda) puasa atau “upavasa” membuktikan bahwa memiliki manfaat dalam kesehatan system indra, meningkatkan kesehatan system pencernaan, antusiasme, dan mengurangi tanda atau gejala penyakit.

Pengaruh puasa terhadap kesehatan sejauh ini banyak diteliti pada hewan coba sedangkan penelitian dengan subjek manusia masih terbatas. Beberapa penelitian pada hewan coba menyimpulkan bahwa puasa dapat secara efektif membatasi asupan kalori dan menurunkan kadar insulin dan konsentrasi glukosa dalam darah.

Penelitian tentang puasa dan kolesterol

Selain itu puasa pada hewan coba juga dapat menurunkan kadar kolesterol plasma dan konsentrasi trigliserida. Hal ini menunjukkan bahwa puasa dapat membantu memperbaiki metabolisme lemak dalam tubuh5.

Demikianlah beberapa manfaat dari puasa sebagaimana telah disyariatkan oleh Allah SWT. Jika Allah telah membuat sebuah ketetapan, dengan keimanan, seorang muslim seharusnya meyakini bahwa segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah akan membawa dampak positif bagi umat manusia.

Oleh karena itu puasa diharapkan selain dapat meningkatkan kualitas ketaqwaan juga dapat memperbaiki kualitas kesehatan pada manusia. (Nurohmi Susi)

References:

  1. Nencioni A, Caffa I, Cortellino S, Longo VD. 2018. Fasting and cancer: molecular mechanisms and clinical application. Nature Reviews Cancer.
  2. Nair PMK dan Khawale PG. 2016. Role of therapeutic fasting in women’s health: an overview. J Midlife Health. 7(2): 61-64
  3. Galluzzi L, Baehrecke EH, Ballabio A, Boya P, Bravo-San Pedro JM, Cecconi F, et al. 2017. Molecular definitions of autophagy and related processes. EMBO J. 36(13):1811-1836.
  4. Michalsen A, Li C. 2013. Fasting therapy for treating and preventing the disease-current state of the evidence. Forsch Komplementmed. 20(6):444-453
  5. Varady KA, Hellerstein MK. Alternate-day fasting and chronic disease prevention: a review of human and animal trials. Am J Clin Nutr. 2007; 86:7–13

One thought on “Puasa & Pengamatan Medis Kesehatan Tubuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *