Search in:

Jiwa keikhlasan sebagai pupuk keberhasilan pendidikan

Sabtu, Aula gedung CIOS (Center of Islamic and Occidental Study) dipenuhi dengan aura aura semangat penyebar ilmu. Drs. KH. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed, narasumber yang sudah dinanti dalam pertemuan ini. Pertemuan penyiram rohani serta pembakar semangat untuk terus berjuang dijalan pendidikan ini mengambil tema tentang “Ikhlas”. Ikhlas sebagai “pupuk” dirasa memiliki makna yang kurang cocok dalam tema kali ini. Ikhlas lebih ditujukan menjadi pondasi, pokok, pangkal ujung, awal mulainya dari sebuah perjuangan pendidikan. Niat awal menyebarkan ilmu karena Allah S.W.T. Oleh karena keikhlasan berkaitan erat dengan Rabb yang Maha Agung.

Kita pernah mendengar tentang fenomena keislaman di negara yang jarang atau bahkan tidak memiliki penduduk muslim dengan melihat kebersihan kota, kesetaraan pendidikan, kejujuran masyarakat, toleransi antar sesama dan sebagainya. Namun, keislaman itu sendiri tidak dapat hanya dilihat dari bersih, keamanan, pendidikan suatu negara. Dasar keislaman datang dari iman, meyakini bahwa Allah itu ada, nyata. Sehingga jikalau demikian fenomena tersebut hanya memperlihatkan sebagian dari nilai-nilai keislaman itu sendiri.

Jangan tergesa-gesa menuruti akliyah kita, terkadang apa yang menurut logika kita benar belum tentu Allah menyatakan hal yang sama. Dan apa yang menurut Allah S.W.T sanggup dilakukan belum tentu sanggup telintas dari logika kita. Seringkali manusia sendirilah yang membatasi kekuaasaan Allah S.W.T dengan akliyah mereka.

Padahal Allah itu Maha Bisa, tidak ada yang tahu dimana keterbatasannya bahkan ketidakterbatasan itu sendiri. Kita sebagai hamba perlu terus belajar dan memiliki pokok pikiran bahwa Allah Maha Segalanya. Begitu juga dengan belajar bagi kalian para akademisi bukan hanya sampai gelar Profesor yang kalian kejar, terus belajar belajar hingga Allah perkenankan kalian untuk melepas dunia fana dan kembali pada-Nya. Belajar karena lillah.

Pernahkah terlintas saat di SMA atau bahkan saat kuliah S1 untuk menjadi sesuatu yang tidak pernah kalian bayangkan saat ini? Mungkin menjadi dosen UNIDA? Terbayangkah? Bukankah ada campur tangan Allah S.W.T disana?

Ikhlas tidak hanya dibangun saat kita dalam keadaan terbawah. Pahami Allah S.W.T. Sang Penguasa. Bagi sebagian orangtua seringkali merasa menguasai anak mereka. Begitu juga sebagian dosen merasa menguasai mahasiswa. Padahal mereka (anak-anak, mahasiswa) merupkan individu individu milik Allah S.W.T. Hanya kepada-Nya dikembalikan Pahami dan kenalilah Allah lebih objektif tidak mendahulukan asumsi/kesimpulan kita sendiri.

Mengamalkan rukun iman yang keenam percaya pada Qodo dan Qodhar, setiap takdir yang diterima tidak lain karena izin Allah S.W.T. Kita diberikan bekal berupa insting, paca indra, akal, dan agama, tetapi ingat masih ada kuasa Allah diatas bekal kita. Jangan sampai kita terjebak oleh asumsi akliyah kita

Keikhlasan tidak mudah dilatih secara praktis. Kita bisa belajar ikhlas lebih jauh dari suri tauladan kita Nabi Muhammad S.A.W. bagaimana beliau masih dengan begitu ikhlas berdakwah walaupun dilempari batu, disiksi tidak hanya dia tetapi juga keluarganya. Bagaimana ia masih sanggup memaafkan pamannya sendiri yang sudah begitu sadis melukai Sang Nabi. Contohlah perilaku Rosullullah S.A.W.

Nabawiyah

7 thoughts on “Jiwa keikhlasan sebagai pupuk keberhasilan pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *