Search in:

Cara Islam Vs Barat: Mana yang Lebih Baik? Kajian Ilmiah tentang Kebenaran Syariat Islam Tentang Penyembelihan

Ada sebuah kisah dimana salah satu anggota parlemen sekaligus tokoh pembela HAM di Belanda meminta dibatasinya penyembelihan menurut ajaran agama (agama Islam). Ia berdalih bahwa cara peyembelihan menurut ajaran Islam tidak ‘manusiawi’ dan menimbulkan penderitaan yang tidak perlu bagi binatang yang disembelih. Pernyataan tersebut ia lontarkan guna menyudutkan Islam yang mana, Islam merupakan agama yang paling berkembang pesat di Eropa saat itu. Menurut orang Barat cara pemyembelihan yang katanya ‘berperikemanusiaan’ adalah  membuat hewan tersebut pingsan dengan cara di strum, bius, atau di pukul hingga pingsan. Dengan cara-cara tersebut, hewan dikatakan tidak menderita kesakitan karena hewan tersebut tidak sadar saat disembelih.

Lalu bagaimanakah tanggapan kita sebagai orang muslim? Apakah kita serta merta setuju dengan argumentasi mereka yang menganggap bahwa metode mereka lebih ‘manusiawi’? Apakah ada kajian Ilmiah yang membahas hal tersebut?. Tentu saja kami sebagai umat muslim TIDAK SETUJU dengan argumentasi mereka. Kami yakin bahwa penyembelihan dengan cara Islam lebih baik daripada cara Barat. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah adalam surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan daging yang disembelih tanpa menyebut asma Allah, yang tercekik, yang terjatuh, yang tertanduk dan yang terterkan binatang buas, kecuali yang sepat kamu sembelih”.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin mengajarkan seluruh aspek kehidupan (baik dalam sains, pendidikan, kesehatan, dll) yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Prof. Dr. Schultz dan Dr. Hazim dari Hanover University membuktikan kebenaran penyembelihan dalam syariat Islam. Keduanya memimpin sebuah penelitian tentang “Manakah yang lebih baik dan tidak sakit antara penyembelihan dengan cara Islam dengan Barat”.

Penelitian kedua Ilmuan tersebut menggunakan sapi yang telah dipasangi elektroda (EEG) yang menyentuh titik panel rasa sakit di otak dan ECG yang dipasang di jantung. Alat tersebut berfungsi untuk merekam keadaan otak dan jantung saat sapi disembelih dengan kedua metode tersebut. Hasil dari penelitian itu menjelaskan bahwa penyembelihan dengan syariat islam tidak menimbulkan rasa sakit bagi hewan mengingat tidak adanya perubahan pada EEG. Selain itu EEG merekam bahwa terjadi penurunan secara bertahap pada otak kecil seperti kejadian deep sleep hingga hewan kehilangan kesadaranya. Pada saat itu juga terjadi peningkatan aktivitas jantung yang terekam melalui ECG yang bertujuan untuk mengeluarkan semua darah dari dalam tubuh sapi. Darah yang berhasil dikeluarkan dari dalam tubuh akan mengahsilkan daging yang sehat dan aman untuk dikonsumsi.

Namun sebaliknya, metode barat lebih menyakitkan dan lebih tidak ‘manusiawi’. Hal ini ditunjukkan oleh grafik ECG (jantung) yang mencapai batas paling bawah yang mengindikasikan adanya rasa sakit yang luar biasa. Akibatnya jantung kehilangan kemampuan untuk memompa darah keluar. Darah-darah tersebut membeku dalam urat-urat daging sehingga akan menghasilkan daging yang tidak sehat dan tidak layak dikonsumsi.

Aidaros (2005) menyatakan bahwa pemotongan pembuluh darah leher segera saat penyembelihan menyebabkan iskemia otak dan menyebabkan hewan tidak sensitive rasa sakit. Metode ini menyebabkan darah lebih cepat keluar dari tubuh hewan. Pisau tajam yang memotong vena jugularis dan kerongkongan menghentikan pengaliran darah ke otak dengan demikian hewan akan tidak sadar (mati). Sehingga, dapat ditekankan bahwa aturan untuk penyembelihan sesuai syariat berdasarkan prinsip pengeluran darah secara efektif tidak menimbulkan penderitaan yang tidak perlu (Marzuki & Yazid, 2012)

Penelitian dengan judul Histological changes in Liver and Pectoral Muscles of Broiler Chickens Slaughtered with and Without Naming of Allah menyatakan bahwa terjadi pembengkakan dan kerusakan pada pada otot ayam yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Hal tersebut menyebabkan pesatnya pertumbuhan bakteri pada daging ayam. Sebaliknya, daging ayam yang disembelih dengan menyebut nama Allah (cara penyembelihan Islam) menunjukkan hasil yang normal pada otot (daging) ayam (Tarek et al. 2013). Penelitian ini membuktikan kebesaran Alllah dalam surat Al-An’an ayat 118 yang artinya “maka makanlah binatang-binatang yang halal yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya”.

Allahu Akbar, penelitian tersebut membuktikan bahwa agama Islam adalah agama yang paling sempurna. Daging yang disembelih dengan cara yang benar akan menghasilkan daging yang lebih berkualitas dan lebih bermaanfaat bagi orang yang mengkonsumsinya. (Fiki)

Referensi

Aidaros, H. (2005). Global perspectives – the Middle East: Egypt. Reveu scientific et technique – office international, 24(2), 589-596

Marzuki, S & Yazid, Z. (2012). The Anatomy of Halal Slaughtering: Issues and Challenges. Conference Paper. Accesed on 13th August, 2019. Retrieved from http://www.researchgate.net/publication/306390069.

Tarek, K., Mohammed, M., Omar, B., Hassina, B and Messaoda, I. (2013).Histological Changes in Liver and Pectoral Muscles of Broiler Chickens Slaughtered with and Without Naming of Allah. International Journal of Poultry Science, 12 (9): 550-552.

One thought on “Cara Islam Vs Barat: Mana yang Lebih Baik? Kajian Ilmiah tentang Kebenaran Syariat Islam Tentang Penyembelihan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *