Search in:

Dosen dan Tendik FIK dalam Workshop ISO 17025 untuk Laboratorium Halal

Konsep halal bagi umat Islam seperti gaya hidup. Seluruh sisi kehidupan perlu diperhatikan kehalalannya, baik dari segi ekonomi (cara mendapatkan harta), obat-obatan, makanan, bahkan hingga hukum. Melihat pentingnya produk halal dan sejalan dengan islamisasi sains, maka empat orang pengelola laboratorium terpadu Fakultas Ilmu Kesehatan Unida mengikuti workshop ISO 17025 untuk laboratorium halal di Universitas Brawijaya, Malang.

Dr. Subandriyah, M.M. Plt mengatakan bahwa halal merupakan kebutuhan seluruh umat manusia. Karena halal adalah bersih dan aman. Beliau memaparkan tentang regulasi kehalalan produk yang kini berada di bawah naungan Kementerian Agama, terutama BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal). Sertifikasi halal yang dulu bersifat sukarela, sejak 17 Oktober 2019 menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh produsen. Untuk mendapatkan sertifikat halal, produsen harus mendaftarkan produknya terlebih dahulu. Setelah itu akan dilakukan pengecekan oleh auditor halal, lalu diberikan fatwa oleh MUI. Setelahnya BPJH akan memberikan sertifikat halal yang akan berlaku selama 4 tahun.

Sebagai laboratorium yang ingin berkembang menjadi halal laboratory, Laboratorium Terpadu FIK perlu memiliki sertifikat ISO 17025 agar dapat menjadi Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Menurut Dr. Subandriyah, LPH merupakan rumah bagi para auditor halal yang diajukan oleh Yayasan Keagamaan Islam. Syarat pendirian LPH telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH) dengan minimal 3 orang auditor halal dengan latar belakang pendidikan Kimia, Biologi, Teknologi Pangan, Farmasi, dan lain sebagainya yang akan dilatih terlebih dahulu.

Dr. Ir Bambang Dwi Argo, DEA sebagai pembicara kedua memaparkan pentingnya kalibrasi alat laboratorium sehingga didapatkan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, beliau memaparkan tentang dokumen apa saja yang dibutuhkan dalam ISO 17025 untuk laboratorium beserta delapan klausulnya. Selain alat dan laboratorium, sumber daya manusia yang akan melakukan uji juga harus memiliki sertifikat kompetensi.

Dr. Yuni Kilawati, S.Pi., M.Si. sebagai pembicara ketiga menyampaikan bila sebuah lembaga ingin menjadi LPH, maka diperlukan laboratorium tersertifikasi ISO 17025. Proses dalam sertifikasi ISO tidak singkat. Namun bila lembaga yang belum memiliki laboratorium atau memiliki laboratorium tidak terstandar ISO, lembaga tersebut masih bisa menjadi LPH dengan mengadakan MoU dengan laboratorium terstandar ISO. Selain itu, beliau juga menyampaikan tentang perlunya menjaga kepuasan pelanggan yang menggunakan laboratorium. (fikosa)

One thought on “Dosen dan Tendik FIK dalam Workshop ISO 17025 untuk Laboratorium Halal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *