Search in:

Hidup Sekali Hiduplah Yang Berarti

Sabtu, 22 Februari 2020. Laboratorium Farmasi lama Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menjadi saksi kembali atas kehadiran majlis yang dinanti-nanti. Dwi Pekanan tenaga dan staf kependidikan UNIDA dengan tema “Memaknai Falsafah ‘Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti'” oleh Drs. H. Suyoto Arief, M.S.I. Beliau asli dari Ponorogo dan mulai ada di Gontor sekitar tahun 1976.

Beliau menyampaikan bahwa falsafah tersebut disampaikan selalu pada pertemuan santri di awal ataupun tengah tahun oleh K.H. Ahmad Sahal maupun Zarkasyi. Apa sih yang dimaksud dengan hidup? Apa sih makna hidup? Hidup itu indah bagi orang yang memiliki materiin dan non materiil. Hidup itu kejam bagi orang yang melalui masa masa tidak menyenangkan. Hidup dimaknai berdasarkan pengalaman orang masing-masing. Lalu bagaimana hidup ditinjau dari filosofi? Khususnya Gontor memfilosofikan hidup. Ustadz Suyoto menyampaikan bahwa Hidup itu gerak, kalau tidak gerak artinya tidak hidup, hidup itu aqidatun wa jihadun atau keyakinan dan perjuangan.

Segala sesuatu dimulai dari aqidah / keyakinan / percaya diri / kemantapan hati kemudian membutuhkan perjuangan. Gerak berarti kegiatan atau tugas atau pekerjaan. Artinya cari kegiatan cari tugas agar terus bergerak. Ketika orang menyerah maka akan berkurang hidupnya 50%.

Aqidah dibentuk terlebih dahulu lalu turun ke iman. Kemudian dari sinilah akan terlihat maka yang harus saya dahulukan, prioritas. Nah, prioritas inilah yang menjadi perjuangan. Tanpa ada perjuangan bagaimana prioritas akan tercapai. Perjuangan tidak hanya ditujukan bagi kaum Adam tapi juga hawa. Lalu kapan kita akan memetik hasil ? Di akhir setelah keluar pengorbanan, emosi, materi, kesempatan. Jangan mengharap hasil ketika berjuang tidak akan pernah terlihat. Lihat setelah pengorbanan yang kita lakukan.

Hidup kita hanya sekali, oleh karena kita tidak bisa merestart kembali maka jadilah berarti. Saat ini bagi kamu kuda mungkin belum terasa, tapi esok selepas usia 30 akan kerasa.
Lalu pengorbanan ini untuk siapa? Beliau menyampaikan untuk kita sendiri, keluarga, negara dan agama.

Beliau pun menyampaikan tentang filosof pertanyaan ketika masuk ke Gontor , “ke Gontor/UNIDA apa yang kau cari?” Dan kenapa ketika keluar yang ditanyakan “Di pondok apa yang sudah kau beri?”

Ustadz Suyoto menyampaikan bahwa santri masuk sebagian besar akan menjawab, pendidikan, bahasa Arab, bahasa Inggris. Padahal yang diharapkan dari Kiai adalah pendidikan hidup dan kehidupan untuk bekal mengarungi kehidupan di luar pondok kelak. Lalu ketika keluar dari pondok maka pertanyaannya bukan apa yang sudah kau dapat karena mereka pun belum memahami hal tersebut.

Oleh karenanya diganti. Dengan memberikan sesuatu ke pondok artinya mereka paham dalam hidup dan kehidupan ada sesuatu yang bisa mereka lakukan untuk terus bergerak, untuk terus hidup. Sehingga terjawab sudah pertanyaan tersebut. Demikian kajian Dwi Pekanan Sabtu 22 Februari 2020. bila ada kesalahan, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan. Syukron (Nabawiyah)

2 thoughts on “Hidup Sekali Hiduplah Yang Berarti

g now

Hiya very nice web site!! Guy .. Beautiful .. Wonderful ..
I’ll bookmark your site and take the feeds additionally?
I am satisfied to search out so many useful info right
here in the submit, we want work out extra strategies on this regard,
thank you for sharing. . . . . .

Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *