Search in:

Bagaimana Pola Konsumsi Seorang Muslim di Bulan Ramadhan?

Artikel ini adalah ringkasan dari kuliah subuh yang disampaikan Ustadz Dr. Setiawan bin Lahuri di Masjid UNIDA Gontor pada Ahad, 3 Ramadhan 1441.

Seharusnya, bulan Ramadhan ini menjadi syahru-l-Imsak. Menahan diri dari rasa haus dan lapar. Menahan diri dari melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membatakan puasa. Karena memang, dalam definisi sederhananya, puasa adalah menahan diri dari rasa lapar dan haus dan segala hal yang dapat membatalkan dari mulai terbitnya fajar sampai terbenam matahari.

Ada sebuah disertasi yang ditulis oleh saudara Habrianto di Universitas Islam di Sumatera Utara. Kurang lebih judulnya analisis konsumsi di bulan ramadhan. Kurang lebih temuan penelitian ini adalah ternyata ada peningkatan konsumsi yang signifikan pada keluarga muslim di bulan ramadhan. Bahkan, peningkatan ini bisa mencapai 30-50 persen dari bulan sebelumnya. Tentunya, peningkatan ini ada kontradiksi dengan esensi puasa yaitu imsak.

Tentu ada sekian banyak faktor yang membuat pola konsumsi kita berlebihan. Di antaranya adalah kemampuan daya beli atau income. Faktor kedua bisa jadi pemahaman yang benar terhadap agama. Menariknya, menurut Pak Habrianto, ada aroma balas dendam bagi seorang shoimpada bulan ramadhan ini. Biasanya kita makan 3 kali dalam sehari. Tapi saat bulan ramadhan kita hanya 2 kali saja. Maka di antara kita ada yang berpikir “saya akan makan banyak karena seharian tidak makan”.

Panduan tentang bagaimana pola konsumsi kita sebagai seorang muslim ditegaskan oleh Allah dalam QS. Al-Furqon: 67:

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Artinya:”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian

Yang menarik dari ayat ini adalah ada dua panduan utama bagaimana kiat berkonsumsi dalam sehari-hari. Tentu meski konteks dalam ayat ini tidak khusus di bulan Ramadhan, tapi kita tidak mungkin membedakan pola konsumsi pada bulan Ramadhan dengan bulan lainnya.

Lalu bagaimana caranya :

1.Lam yusrifuu atau israaf dan kedua lam yaqturu atau at-taqtir.

Yang pertama, isrof artinya –menurut para ulama-al infaaq fii ma’shiyatillah. Wa in qolla, meskipun sedikit. Isrof adalah mengeluarkan sesuatu untuk kepentingan maksiat meskipun sedikit, itulah sebenarnya yang dinamakan boros. Contoh sederhananya, seorang Muslim yang hidup di negara yang mayoritas Muslim, sehingga ketika dia mendaftar haji, harus menunggu 15 tahun lamanya atau lebih. Karena dia ingin cepat, maka dia memesan haji plus agar bisa langsung berangkat. Tentu haji plus biayanya tidak sedikit. Minimal 3 atau bahkan 4 kali lipat dari biaya haji biasa. Tapi, apakah ini disebut boros atau isrof? Tidak. Karena meskipun uang yang dikeluarkan banyak, tujuannya untuk ketaatan kepada Allah, bukan untuk maksiat.

Lain halnya dengan mahasiswa yang membeli stik game. Meski harganya hanya seratus ribu, tapi benda tersebut tidak menjadikannya lebih taat kepada Allah tapi benda yang tidak berguna, bahkan bisa menjadikan seseorang lalai sehingga menunda sholatnya. Inilah yang dinamakan isrof meski kuantitas atau nominal uangnya sedikit.

Intinya, ketika seorang muslim melakukan infaq/membeli sesuatu, maka yang paling utama yang harus dipikrkan adalah untuk apa saya membeli ini? Selama itu untuk ketaatan maka tidak termasuk isrof/boros. Tapi jika sebaliknya, maka ia disebut isrof meski uangnya sedikit.

2. At-taqtir

Yang kedua adalah at-taqtir atau bisa diartikan bakhil/pelit. Secara umum, definisi at-taqtir adalah menahan diri dari sebuah kebaikan meskipun sedikit. Contoh sederhananya, ketika kita sedang berjalan, tiba-tiba menemukan seorang pengemis. Tapi kita tidak tersentuh untuk berinfak meski sedikit. Itu disebut at-taqtir. Contoh yang lain, di desa kita ada sebuah masjid yang membutuhkan dana untuk diperbaiki. Tapi kita tidak berinfak meski sedikit.

Maka, dapat kita simpulkan, pertama, dalam prilaku konsumsi atau al-infaq –dalam bahasa Syaibani-, yang mana diartikan dengan mengeluarkan uang untuk sesuatu yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Kita harus meletakkan iman sebagai dasar dari perilaku kita termasuk dalam mengkonsumsi makanan. Iman harus terpatri dalam jiwa. Maka, dalam Q.S. Al-Baqarah: 172 disebutkan bahwa perintah untuk makan didahului dengan perintah beriman. Jika iman sudah kuat, maka tentu pola konsumsi kita akan benar.

Kesimpulan kedua adalah, dengan menjaga pola konsumsi kita saat Ramadhan, berarti kita sedang dalam menjaga kesehatan kita. Tentu, di samping bahwa puasa itu sendiri berdampak pada kesehatan menurut para dokter, bahkan seorang dokter non Muslim dari Jepang. Yakin seyakin-yakinnya tidak ada yang sakit gara-gara puasa. Yang ada adalah banyak orang tidak kuat sholat tarawih karena kebanyakan makan ketika berbuka. Tidak kuat ngaji lama-lama karena perutnya terlalu penuh oleh kolak dan lain sebagainya.

3. Wa kaana baina dzaalika qawaamaa

Yang ketiga, sesuai dengan potongan Q.S. Al-Furqan: 67 yaitu wa kaana baina dzaalika qawaamaa. Yaitu kita harusnya berada di tengah-tengah antara israf dan at-taqtir. Kita membelanjakan harta kita sesuai dengan kebutuhan, bukan sesuai keinginan. Ini dalam berbagai hal. Dari belanja makanan, pakaian dan lain sebagainya. Maka, sebaiknya kita bersahur dan berbuka sewajarnya saja. Tidak berlebihan dan tidak kurang. Jika demikian, maka hadits yang dikatakan Rasulullah bahwa puasa itu menyehatkan (صومواتصحوا) akan terwujud. Wallahu a’lam bishshawab.

Reporter Al-ustadz Ahmad Kali Akbar, M.Pd. dosen Pendidikan Bahasa Arab

Artikel terkait :

Puasa dalam Terapi Kanker

Tips Tetap Bugar dalam Berpuasa Bagi Pengidap Anemia

5 thoughts on “Bagaimana Pola Konsumsi Seorang Muslim di Bulan Ramadhan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *