Search in:

PUASA DALAM TERAPI KANKER

Ramadhan adalah bulan yang diberkahi oleh Allah dan amalan yang dilakukan didalamnya senantiasa dilipat gandakan, ibadah yang dilakukan salah satunya adalah berpuasa. Seperti sabda Rasulullah Salallahu’alaihiwassalam “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telahlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Selain mendapat ganjaran, kebaikan berpuasa yang lain telah dibuktikan oleh para peneliti khususnya pada pengobatan kanker.

Apa itu Puasa?

Pengertian puasa menurut Osher Center for Integrative Medicine adalah penghindaran asupan makan sama sekali tapi tidak dengan air. Puasa dibagi menjadi 2 macam, (1) intermitten fasting (IF) yaitu puasa 16 jam atau lebih per hariatau 48 jam per minggu, (2) periodic fasting yaitu puasa minimal selama 3 harisetiap 2 minggu atau lebih. Sedangkan sesuai ajaran Nabi Muhammad Salallahu’alaihiwassalam puasa dimulai sejak fajar hingga matahari terbenam dan disunnahkan makan sahur. Lama berpuasa sesuai aturan ini beragam di setiap negara tergantung lama waktu siang dan malamnya. Di Indonesia rata-rata lama berpuasa adalah 13 jam.

Puasa telah dikenal sebagai bagian dari terapi medis tertua. Hipocrates, Bapak kedokteran dunia mempercayai bahwa dengan berpuasa, tubuh dapat menyembuhkan diri sendiri.

Lalu kebaikan apa dari puasa terhadap pengobatan kanker?

Puasa adalah bagian dari pola makan pembatasan kalori. Dimana pembatasan kalori atau calorie restriction (CR) diketahui dapat melindungi tubuh dari kanker dan memperpanjang masa hidup seseorang. Pembatasan kalori berpengaruh pada adaptasi metabolic, molekuler hingga seluler. Pembatasan kalori secara bertahap menurunkan stress oksidatif, perbanyakan sel, dan proses-proses perbaikan DNA.

Penelitian pertama dilakukan oleh Carlo Moreschi pada tahun 1909 dimana CR terbukti menurunkan progresifitas tumor pada percobaan hewan. Penelitian Lee dkk (2012) menunjukkan puasa selama 48-60 jam mampu memperkecil pertumbuhan sel tumor. Penelitian pada mencit ini lebih jauh menjelaskan kanker yang dapat diretardasi adalah kanker payudara, melanoma, glioma, neuroblastoma, dan kanker ovarium.

Kemudian penelitian pada manusia oleh Safdi et al (2009) menjelaskan perlakuan puasa pada penderita kanker dengan kemoterapi memberikan efek samping signifikan lebih rendah dibanding pada pasien tanpa perlakuan puasa. Efek yang mengejutkan pada penelitian ini adalah pasien yang berpuasa 48 jam lebih tersebut mengalami kelelahan dan rasa lemah lebih rendah secara signifikan dibandingkan pasien yang tidak berpuasa. Kemoterapi menyebabkan banyak kerusakan DNA dan apoptosis seltumor. Pemberian terapi puasa jangka pendek (48-60 jam) melindungi sel yang tidak terkena tumor dari efek samping kemoterapi (de Grott et al, 2019).

Sriplung dkk (2014) menemukan bahwa kejadian kanker serviks dan payudara lebih rendah pada Muslimah daripada wanita budha. Kemudian kejadiankankerprostat juga rendah pada laki-lakimuslim

Mekanisme puasa pada kanker

Warburg effect adalah salah satu tanda kanker dimana sel tumor melakukan respirasi untuk mempertahankan hidup. Sel kanker menggunakan glukosa untuk mendapatkan ATP sebagai sumber energi yang paling mudah untuk berproliferasi (anaerobic glycolysis). Di sisi lain ketika tubuh berpuasa, maka tubuh akan menggunakan benda aketon untuk memperoleh energi

Puasa mendorong penggunaan energi dari jaringan adiposa dan protein dalam jalur gluconeo genesis dan mempengaruhi berbagai sitokin hormone antara lain glucagon, insulin, growth hormone (GH), IGF-1, adrenalin, gluko kortikoid. Dalam masa 6-24 jam puasa, glucagon meningkat dan terjadi penggunaan glikogen untuk energi. Rendahnya insulin mendorong asam lemak untuk menjadi energi. Sementara itu kebutuhan energi untuk otak oleh glukosa digantikan oleh badan keton yang berasal dari beta oksidasi asam lemak dan asam amino ketogenic. Gluko kortikoid dan adrenalin juga berperan menjaga kadar gula darah dan menstimulasi lipolysis. Hal ini membuat sel tumor menjadi lemah dan mencegah sel tumor mendapatkan energi untuk hidup.

Puasa dapat meningkatkan GH untuk meningkatkan gluco neogenesis, lipolysis dan menurunkan uptake glukosa peripheral. Di sisi lain puasa 48 jam menurunkan Insulin like growth Factor 1 dimana tingginya kadar IGF-1 ini menjadi marker peningkatan risiko penyakit kanker.

Beberapa penelitian membuktikan autofagi dapat mencegah perkembangan tumor dalam pertumbuhannya, progresnya, invasi dan ketahanan terapinya, maka dicari treatment yang dapat memodulasi autofagi untuk pengobatan kanker. Kemudian dibuktikan puasa dapat mengaktifkan autofagi di berbagai organ seperti hepar dan otot sebagai mekanisme adaptifter dapat kondisi stress.

Puasa juga memperbarui stem sel dan system imun seperti sel natural killer, system oksidan yang mengontrol pertumbuhan sel kanker.

Kondisi Pasien untuk Berpuasa

Puasa jangka pendek 48 jam-60 jam memiliki efek samping tingkat sedang antara lain sakit kepala, pusing, mual, kelemahan dan penurunan berat badan. Pada penelitian lain pasien dapat mengalami sakit perut, dada terbakar, rasa dingin, meski begitu tidak ada masalah yang merugikan terjadi. Pasien kanker yang mengalami malnutrisi , kakeksia, sarcopenia, dan kehilangan berat badan yang drastic tidak disarankan menjalankan terapi puasa ini.

Hasil meta analisis menunjukkan puasa secara signifikan dapat menurunkan IGF-1 pada pasien kanker namun, hal ini dipengaruhi oleh usia pasien tidak ada perbedaan efek antara laki-laki dan perempuan, puasa banyak memberikan mekanisme adaptasi dan proteksi terhadap penyakit kanker dan juga efek samping pengobatan kanker. Puasa masih pada posisi sebagai pendukung kemoterapi. dalam hal mekanisme pengecilan tumor seseorang masih membutuhkan pengobatan, puasa belum dapat menjadi single treatmen. Lama puasa untuk pengobatan kanker ini minimal 48 jam (short term fasting) hingga 140 jam (long term fasting)

Referensi

OsherCenter for Integrative Medicine. Can fasting or calorie restriction help my body fight cancer?  Could it also help cancer treatment be more effective?. University of California San Fransisco. Diaksestangga 20 Maret 2020. https://osher.ucsf.edu/patient-care/integrative-medicine-resources/cancer-and-nutrition/faq/cancer-and-fasting-calorie-restriction

Safdie FM. Dorff T, Quinn D, Fontana L, Wei M, Lee C, Cohen P, Longo VD. 2009. Fasting and Cancer Treatment in Humans: A Case series report. Aging, 1(12).1-20

de Groot, S., Pijl, H., van der Hoeven, J., &Kroep, J. R. 2019. Effects of short-term fasting on cancer treatment. Journal of experimental & clinical cancer research : CR, 38(1), 209. https://doi.org/10.1186/s13046-019-1189-9

Lee CRaffaghello LBrandhorst SSafdie FMBianchi GMartin-Montalvo APistoia VWei MHwang SMerlino AEmionite Lde Cabo RLongo VD.2012.Fasting cycles retard growth of tumors and sensitize a range of cancer cell types to chemotherapy.Sci Transl Med.  Mar 7;4(124):124ra27. doi: 10.1126/scitranslmed.3003293.

Rahmani J,VarkanehHK, Clark C, ZandH, Bawadi H, Ryan PM, Fatah Si, Zhang Y. 2019. The influence of fasting and energy restricting diets on IGF-1 levels in humans: A systematic review and meta-analysis,Ageing Research Reviews. 53https://doi.org/10.1016/j.arr.2019.100910.

Nencioni, C, Caffa I, Cortellino S, Longo V.D. 2018. Fasting and Cancer: Molecular Mechanism and Clinical Application. Nat Rev Cancer, 18(11): 707–719. doi:10.1038/s41568-018-0061-0

Antunes, F., Erustes, A. G., Costa, A. J., Nascimento, A. C., Bincoletto, C., Ureshino, R. P., Pereira, G., &Smaili, S. S. 2018. Autophagy and intermittent fasting: the connection for cancer therapy?. Clinics (Sao Paulo, Brazil)73(suppl 1), e814s. https://doi.org/10.6061/clinics/2018/e814s

Bragazzi, N. L., Briki, W., Khabbache, H., Rammouz, I., Chamari, K., Demaj, T., Re, T. S., &Zouhir, M. 2016. Ramadan Fasting and Patients with Cancer: State-of-the-Art and Future Prospects. Frontiers in oncology6, 27. https://doi.org/10.3389/fonc.2016.00027

Sriplung H, Bilheem S, Kuntipundee T, Geater SL. Differences in cancer incidence among predominantly Muslim and Buddhist subpopulations in Songkhla. Asian Pac J Cancer Prev (2014) 15(22):9979–83.10.7314/APJCP.2014.15.22.9979

Abo- Elkhear, Lamia Mostafa Elsayed. 2018. Ramadan as a Anticancer Therapy. Diaksestanggal 20 April 2020. https://aboutislam.net/science/health/ramadan-anticancer-therapy/

Mira Dian Naufalina, M.Gizi Dosen Ilmu Gizi

5 thoughts on “PUASA DALAM TERAPI KANKER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *