Search in:

FAKE MEAT: RASA DAGING, TAPI BUKAN DAGING ALTERNATIF MAKANAN MASA DEPAN

Daging merupakan salah satu bahan makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat. Daging dihasilkan dari hewan ternak seperti sapi, kerbau, ayam, kambing dan domba. Namun, tidak semua masyarakat dapat membeli daging dengan harganya yang cukup menguras kantong. Selain itu beberapa orang memiliki pantangan untuk mengkonsumsi daging karena faktor sosial budaya, vegetarian dan lain-lain. Perkembangan teknologi pangan memunculkan inovasi pembuatan daging tiruan yang mirip dengan daging asli.

Apa sih Fake meat itu ?

Fake meat atau biasa pula disebut daging analog merupakan produk daging tiruan dengan bahan utama protein kedelai. Kualitas tekstur dan rasa fake meat ini menyerupai daging asli. Awalnya, daging tiruan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan asupan makanan yang rendah lemak dan kalori, cocok untuk flexitarian, mencegah konsumsi daging hewan berpenyakit, serta mengurangi emisi gas greenhouse. Saat ini, tren adanya fake meat dalam diet menjadi isu penting bagi konsumen dengan pertimbangan bahwa produk tersebut lebih ramah lingkungan.

Texturized vegetable protein (TVP) yang bersumber dari kedelai adalah kontributor terhadap atribut tekstur yang dimiliki oleh daging analog. TVP memiliki tekstur yang elastis dan spongy sehingga cocok untuk pembuatan fake meat. Kandungan gizi protein yang ada didalamnya pun tidak kalah bermutu dari daging hewani. Selain harga yang relatif terjangkau, daging analog dapat dikembangkan menjadi produk sebagaimana daging asli komersil yakni: canned meat, patties, sosis, ataupun sekadar isian dalam roti.

Walau memiliki rasa orisinil yang sedikit langu (beany flavor), dalam dekade terakhir, peneliti telah dapat memunculkan inovasi daging tiruan yang cita rasa, tekstur, sekaligus kenampakannya mirip daging asli. Beberapa perusahaan di Barat seperti Beyond Burger (BB) dan Impossible Burger (IB) telah sukses mengembangkan daging analog yang berbahan dari protein kedelai, gluten gandum, protein telur, serta protein susu. Popularitas fake meat sebagai solusi alternatif makanan berprotein telah menunjukkan angka yang signifikan di negara-negara German, Perancis, Belanda, UK, Italia, dan juga Swedia.

Referensi:

Ismail, I., Hwang, Y.H., and Joo S.T. 2020. Meat Analog as Future Food: A Review. Journal of Animal Science and Technology 62 (2): 111 – 120.

Artikel Terkait :

Daging kambing atau daging domba, pilih mana yang kamu suka?

DAGING KAMBING TIDAK MENYEBABKAN KENAIKAN TEKANAN DARAH

Nur Iani ed Indahtul

5 thoughts on “FAKE MEAT: RASA DAGING, TAPI BUKAN DAGING ALTERNATIF MAKANAN MASA DEPAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *