Search in:

Potatoe, Potatoes, Solanum tuberosum (Si Kentang)

Artikel ini merupakan ringkasan dari review artikel oleh Katherine A. Beals 2018 pada American Journal of Potato Research.

Beberapa abad ini, Kentang sudah menjadi makanan pokok hampir di seluruh dunia khususnya  US.  Si kentang berkontibusi pada pemenuhan gizi seperti vitamin C, potasium (kalium) dan serat harian (McGill et al. 2013). Meskipun memiliki nutrisi yang cukup baik, ternyata si Kentang juga di cap kontroversial untuk kesehatan menurut Beals ini. Karena si kentang mdiduga menjadi faktor risiko pada penyakit kronis termasuk tekanan darah, lipid darah dan juga peradangan. Bahkan ada yang meneybutkan bahwa si kentang ini bisa meningkatkan resiko penambahan berat badan dan diabetes tipe dua dikarenakan tingi indeks glikemik, tetapi hal tersebut masih perlu dijabarkan akrena penelitian klinik tentang kentang masih terbatas (Beals 2019).

Manfaatnya:

Daya tahan kentang yang tinggi membuat si Kentang menjadi primadona di daerah pegunungan Peru dimana suhu sangat naik turun, kondisi tanah tidak suburdan udara tipis. Kentang dikategorikan sebagai  “sayuran berpati” dengan makronutrient yang dominan adalah karbohidrat. Pati kentang berisi amilopektin dan amilosa dengan rasio 3:1. Sebagian pati yang ditemukan di kentang itu ‘kebal’ terhadap degradasi enzimatik di usus kecil dan mencapai usus besar dalam keadaan utuh. Pati yang kebal ini difermentasi secara ekstensif oleh mikroflora di usus besar yang menghasilkan asam lemak rantai pendek dan menurukan pH usus, mengurangi tingkat toksik amonia di saluran pencernaan, mendorong perumbuhan bakteri kolon yang bersifat baik (Brit et al.2013) . Selain itu, pati yang kebal ini dapat meningkatkan rasa kenyang.

Kandungan Gizinya:

Selanjutnya, kentang sebenernya terdiri atas berbagai macam vitamin dan mineral tetapi yang paling terlihat adalah vitamin C dan B6. Mineralnya kalium, magnesium dan besi. Kentang ukuran medium (5,2 oz) itu bisa memiliki 27 mg Vitamin C (O’neil et al. 2012). Zat gizi berikutnya yang tidak kalah penting untuk disebutkan adalah  karotenoid dan asam fenolat. Karotenoid tipe lutein, zeaxantin dan violaxanthin ditemukan pada jenis kentang kuning dan kentang merah.

Kentang di negara Amerika, tidak hanya sebata makanan pokok karena disukai dan harganya terjangkau tetapi juga berkontribusi atas keterpenuhan nutrisi pada diet sebagian warga Amerikan. Menurut Freedman dan Keast, 2011 dengan menggunakan  data NHANES (National Health and Nutrition Examination Survey) Amerikan, menemukan bawah kentang berkontibusi 10% pada asupan harian serat makanan, Vit B6, dan kalium. 5% menyumbang asupan thiamin, niasin, vit. C, vit. E, vit K, fosfat, magnesium dan tembaga.

Kentang dengan kaliumnya sangat cocok untuk menejemen hipertensi. Namun, Borgi 2016 tidak menemukan hal demikin dalam penelitiannya. Dia menemukan bahwa asupan tinggi pada kentang bakar, rebus, mashed maupun kentang goreng memiliki risiko pada perkembangan hipertensi. Kentang dengan penambahan berat badan masih belum ada pembuktian yang akurat karena metode penelitian yang digunakan kohort dan dirasa kurang pas untuk penelitian tersebut. Butuh penelitian klinis untuk membuktikan secara akurat bahwa kentang memiliki risiko untuk meningkatkan berat badan.

Referensi :

Beals, Katherine .A., 2019. Potatoes, nutrition and health. American Journal of Potato Research96(2), pp.102-110.

Birt, D.F., Boylston, T., Hendrich, S., Jane, J.L., Hollis, J., Li, L., McClelland, J., Moore, S., Phillips, G.J., Rowling, M. and Schalinske, K., 2013. Resistant starch: promise for improving human health. Advances in nutrition4(6), pp.587-601.

Freedman, M.R. and Keast, D.R., 2011. White potatoes, including french fries, contribute shortfall nutrients to children’s and adolescents’ diets. Nutrition research31(4), pp.270-277.

McGill, C.R., Kurilich, A.C. and Davignon, J., 2013. The role of potatoes and potato components in cardiometabolic health: a review. Annals of medicine45(7), pp.467-473.

O’Neil, C.E., Keast, D.R., Fulgoni, V.L. and Nicklas, T.A., 2012. Food sources of energy and nutrients among adults in the US: NHANES 2003–2006. Nutrients4(12), pp.2097-2120.

Hafidhotun ed NH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *