Search in:

Antioksidan dalam Seporsi Sambal

Di Indonesia, sambal merupakan salah satu makanan pendamping yang wajib hadir dalam berbagai sajian, baik sajian makan besar maupun cemilan. Rasanya yang pedas namun membuat ketagihan sering membuat orang Indonesia yang berdomisili di luar negeri merasakan kerinduan. Bahkan tak jarang mereka yang ingin bepergian jauh seperti menunaikan ibadah haji pun membawa sambal dalam berbagai kemasan.

Tahukah Anda ada antioksidan dalam seporsi sambal?

Bahan dalam Seporsi Sambal

Ada berbagai jenis sambal di Indonesia, dari sambal yang diuleg, dipotong, dicampur hasil fermentasi buah, ikan segar, dan terasi. Cabai sebagai bahan utama sambal yang akan memberikan sensasi pedas membakar. Bawang putih dan bawang merah merupakan bahan lain yang secara umum dipergunakan dalam pengolahan sambal. Bahan lain seperti tomat, tempoyak, terasi, berbagai ikan kecil maupun suwiran ikan besar.

Bagi mereka yang tidak ingin sambal yang terasa pedas, bisa menggunakan cabai merah besar atau tomat. Pada masakan Padang, cabai hijau biasa dipergukan dalam pembuatan sambal yang khas. Di daerah kepala Jawa Tengah (Pati, Kudus, dan Rembang), sambal dengan cabai rawit hijau lebih popular untuk menemani berbagai masakan berkuah seperti bakso dan soto. Cabai rawit merah merupakan jenis cabai yang umum dipergunakan di berbagai daerah.

Antioksidan Sambal

Cabai sebagai bahan baku utama sambal memiliki senyawa bioaktif capcaisin yang menimbulkan rasa pedas. Senyawa ini termasuk dalam senyawa alkaloid dengan sifat non-volatile (tidak mudah menguap), larut dalam lemak (lipofilik), dan dapat dikristalkan. Senyawa capcaisin dalam cabai telah dipergunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti osteoarthritis. Walaupun capcaisin dalam cabai berguna bagi kesehatan, penggunaannya tidak boleh berlebihan karena sifatnya yang iritan (dapat mengiritasi), dan aerosolnya dapat menyebabkan batuk dan bersin. Seperti saat menggoreng sambal atau cabai, akan menyebabkan orang menjadi batuk dan bersin karena aerosol capcaisin terbang di udara.

Bawang putih sebagai salah satu bahan utama sambal telah lama diketahui berbagai manfaatnya bagi kesehatan. Senyawa utama dalam bawang putih adalah allicin. Senyawa ini akan muncul bila bawang putih dipotong atau dihancurkan. Selain berfungsi sebagai antioksidan, senyawa allicin juga berfungsi sebagai antibakteri sehingga dapat digunakan sebagai pengawet alami pada bahan pangan. Senyawa allicin memiliki aroma yang tajam karena mengandung sulfur (senyawa sulfuric).

Bawang merah merupakan tanaman herba yang masih segolongan dengan bawang putih. Warna ungu pada bawang merah dipengaruhi oleh adanya antosianin. Selain itu terdapat berbagai senyawa bioaktif lain seperti flavonoid, saponin, aliin dan allicin. Kandungan allicin pada bawang merah yang mengakibatkan rasa pedih pada saat memotong atau menggerus bahan ini. Senyawa bioaktif pada bawang merah berkhasiat bagi kesehatan dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Fitri Komala dosen Prodi Gizi ed NH

Referensi:

I Wayan Redi Aryanta. 2019. Bawang Merah dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. E-Jurnal Widya Kesehatan, Volume 1, Nomor 1, Mei 2019

Jeanna Salima. 2015. ANTIBACTERIAL ACTIVITY of GARLIC (Allium sativum l.). J MAJORITY, Volume 4, Nomor 2, Januari 2015

Iis Nuraeni dan Tina Rostinawati. 2018. REVIEW: PERKEMBANGAN PRODUKSI HASIL METABOLISME SEKUNDER CAPSAICIN DENGAN BERBAGAI METODE IN VITRO. J. Farmaka Suplemen, Volume 16, Nomor 1, 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *