Search in:

Upaya Sumplementasi Penambahan Bubuk Kelor Pada Kudapan Balita Stunting

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah upaya memberikan tambahan makanan untuk menambah asupan gizi untuk mencukupi kebutuhan gizi agar tercapainya status gizi yang baik. Makanan tambahan yang diberikan dapat berbentuk makanan keluarga. berbasis pangan lokal dengan resep-resep yang dianjurkan. Makanan lokal lebih bervariasi namun metode dan lamanya memasak sangat menentukan ketersediaan zat gizi yang terkandung di dalamnya (Kementerian Kesehatan RI, 2016). Pemberian makanan tambahan pada balita stunting harus memenuhi syarat mutu zat gizi yang ditentukan.

Syarat mutu zat gizi yang terkandung dalam 100 gram produk meliputi sebagai berikut :

Tabel 1. Syarat Mutu Zat Gizi yang Terkandung dalam 100 gram Produk

Sumber : (Kementerian Kesehatan RI, 2016)

Pemberian Makanan Tambahan hanya sebagai tambahan terhadap makanan yang dikonsumsi oleh balita sasaran sehari-hari, bukan sebagai pengganti makanan utama. Pemberian Makanan Tambahan ini diberikan sesuai dengan kebutuhan balita untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sasaran sekaligus sebagai proses pembelajaran dan sarana komunikasi antar ibu dari balita sasaran. Lama pemberian PMT secara ideal  sekali sehari selama 90-180 hari (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Lama pemberian makanan dilakukan sesuai dengan perkembangan kondisi balita.

Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat. Daun kelor kaya akan zat gizi, diantaranya kalsium, besi, protein, vitamin A, vitamin B dan Vitamin C. Daun kelor muda berwarna hijau muda dan berubah menjadi hijau tua pada daun yang sudah tua. Daun kelor yang sudah tua dapat digunakan sebagai bubuk atau ekstrak (Aminah et al., 2015).

Penggunaan bubuk daun kelor sebagai bahan fortifikasi mulai banyak dikembangkan sebagai salah satu upaya penanggulangan stunting pada balita. Berbagai bahan makanan hasil olahan yang dapat difortifikasi dengan bubuk daun kelor antara lain bubur, biscuit, agar-agar, cookies, pancake dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil analisis proximate bubuk daun kelor mengandung 1,71% lemak, 1,95% protein, 0,24% serat kasar, 45,74% kalori, 119,48 ppm kalsium dan 2,28 ppm zink (Chabibah et al., 2019).

Kandungan zat gizi pada bubuk daun kelor yang sangat banyak sangat bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan balita. Kandungan kalsium yang begitu tinggi dapat menjadikan salah satu cara untuk meningkatkan tinggi badan balita sebagai makanan tambahan atau pendamping ASI. Konsumsi bubuk daun kelor dapat dilakukan dengan ditaburkan pada makanan atau diminum langsung (Aminah et al., 2015). Bubuk daun kelor yang ditaburkan dalam kudapan balita secara signifikan dapat meningkatkan kandungan zat gizi pada kudapan balita tersebut yang digunakan sebagai upaya suplementasi gizi pada penanggulangan balita stunting.

Berdasarkan analisa penelitian uji proksimat dan mineral didapatkan peningkatan kadar protein, Serat kasar, kalsium dan Zink pada penambahan bubuk daun kelor (Moringa Oleifera) 5% pada susu kedelai. Hal ni menunjukkan bubuk daun kelor dapat digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan kandungan gizi susu kedelai sebagai alternatif pilihan makanan tambahan (Khanifah et al., 2017). Selain itu bubur tempe dan Pancake kelor juga difortifikasi 5% bubuk daun kelor dapat meningkatkan kandungan protein dari 9.07% menjadi 13.79%. Efek ini disebabkan karena tingginya kandungan protein pada bubuk daun kelor.

REFERENSI

Kementerian Kesehatan RI. (2011). Panduan Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Bagi Balita Gizi Kurang (Bantuan Operasional Kesehatan). Ditjen Bina Gizi Dan Kesehatan Ibu Dan Anak Kementerian Kesehatan RI, 1–40.

Kementerian Kesehatan RI. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2016 Tentang Standar Produk Suplementasi Gizi. www.peraturan.go.id

Aminah, S., Ramdhan, T., & Yanis, M. (2015). Syarifah Am inah et. al. : Kandungan Nut risi dan Sifat Fungsional Tanaman Kelor ( M oringa oleifera ). Buletin Pertanian Perkotaan, 5(30), 35–44.

Chabibah, N., Khanifah, M., & Kristiyanti, R. (2019). Great Chief Great Mother – Modifikasi Edukasi Pencegahan Stunting. Link, 15(2), 17–23.

Ladyamayu ed NH

Baca juga Yuk Bikin Biskuit Daun Kelor, Jajanan Sehat Bergizi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *