Search in:

Kurang Tidur Bisa Menyebabkan Kegemukan. Mitos Atau Fakta?

Pada usia  14-17 tahun remaja cenderung memperhatikan bentuk badan karena bentuk badan adalah salah satu daya tarik yang mereka miliki bail laki-laki atau perempuan, namun yang lebih cenderung terobsesi dengan bentuk badan yang bagus adalah perempuan. Namun pada masa ini tujuan kebanyakan dari remaja hanya untuk memiliki bentuk badan yang bagus tanpa mengetahui proses pembentukannya dengan. Karena pada usia ini juga banyak dan sangat banyak ditemukan remaja dengan status gizi overweigh dan obesitas.

Dalam proses penurunan berat badan tidak hanya mengurangi porsi makan dan olahraga yang harus dilakukan, tapi memperhatikan durasi tidur pun juga sangat penting untuk menunjang keberhasilan diet dan menghasilkan hasil yang sempurna sesuai dengan keinginan.  Kebutuhan tidur masing-masing usia berbeda.

Kebutuhan tidur ditentukan menurut rentan usia sebagai berikut :

  1. Bayi usia 0–3 bulan: 14–17 jam per hari.
  2. Bayi usia 4–11 bulan: 12–15 jam per hari.
  3. Bayi usia 1–2 tahun: 11–14 jam per hari.
  4. Anak prasekolah usia 3–5 tahun: 10–13 jam per hari.
  5. Anak usia sekolah usia 6–13 tahun: 9–11 jam per hari.
  6. Remaja usia 14–17 tahun: 8–10 jam per hari.
  7. Dewasa muda usia 18–25 tahun: 7–9 jam per hari.
  8. Dewasa usia 26–64 tahun: 7–9 jam per hari.
  9. Lansia usia dia atas 65 tahun: 7–8 jam per hari

Pola tidur yang baik dan sesuai dengan kebutuhan sangant baik untuk kesehatan. Dalam proses diet untuk mendapatkan bentuk badan impian yang ideal durasi tidur perlu diperhatikan. Karena  tidur adalah salah satu bentuk istirahat yang dapat melepaskan kelelahan jasmani dan kelelahan mental. Dengan tidur semua keluhan hilang atau berkurang dan akan kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Medula oblongata adalah organ yang mengatur tidur kita yaitu pada bagian ventrikulo retikularis yaitu pusat tidur sebagai sinkronisasi yang berfungsi untuk membuat tidur dan bagian rostal yaitu pusat penggugah sebagai desinkronisasi.

Namun, perlu diperhatikan bahwa tidur yang baik tidak mutlak di tentukan oleh lamanya waktu tidur. Tapi tidur seseorang akan menjadi berkualitas jika sesuai dengan kebutuhan fisik, emosional dan fisiologis. Menurut penelitian para pakar gizi, durasi tidur yang pendek berhubungan dengan kejadian obesitas karena durasi tidur yang kurang akan mempengaruhi pola makan seseorang. Jika seseorang memiliki durasi tidur yang pendek maka akan memiliki nafsu makan yang tinggi.

Terdapat beberapa mekanisme yang mempengaruhi durasi tidur yang pendek terhadap obesitas. Pertama, terdapat bukti eksperimen yang mengacu pada perubahan hormonal dan metabolisme yang berkontribusi IMT = TB/BB2 menyebabkan peningkatan berat badan dan obesitas, yang mana terjadi peningkatan hormon ghrelin dan penurunan hormon leptin, yang menyebabkan meningkatnya rasa lapar dan nafsu makan. Selain itu, terdapat hubungan antara kurang tiidur dan termoregulasi, yaitu berakibat mengurangi pengeluaran energi yang tersedia dan berhubungan dengan peningkatan asupan makan.

Pengaruh lain, durasi tidur yang pendek dikaitkan dengan kelelahan yang dapat mengurangi aktivitas fisik, sehingga kalori yang terbuang berkurang. Faktor lainnya, tidur larut malam memberikan kesempatan seseorang sekali makan lebih banyak dan juga kurangnya tidur tersebut dapat juga mempengaruhi pilihan makanan, meskipun beberapa penelitian mengatakan bahwa asupan makanan tetap stabil. Penelitian antara hubungan peningkatan kuantitas asupan makan dan kurangnya tidur ini didukung berdasarkan penelitian Morselli dkk, pada orang yang kurang tidur, terdapat peningkatan asupan energi hingga lebih dari 250 kkal.

Jadi sekarang uda tau ya….

Kurang tidur bisa menyebabkan gemukan atau tidak.

Kesimpulannya adalah kurang tidur memang dapat mempengaruhi pola makan seseorang namun perlu diperhatikan juga kualitas dalam tidur.

Safira Kholifatul Ummah, S.Gz ed NH

Artikel terkait MASIH MAU TIDUR SETELAH SUBUH ?? SIMAK DAMPAK NEGATIF BERIKUT!

POLA TIDUR YANG BAIK DITINJAU DARI PRESPEKTIF ISLAM DAN SAINS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *